70% Pengguna Facebook Hanya Share Link Tanpa Membaca Isinya

70% Pengguna Facebook Hanya Share Link Tanpa Membaca Isinya

Pada Awal Juni lalu, sebuah website bernama The Science Post mempublikasikan sebuah artikel yang hanya berisi teks “lorem ipsum” sebanyak 3 paragraf. Teks tersebut ditulis setelah headline yang mengatakan bahwa sebuah penelitian terbaru menunjukkan, hanya 70 persen orang benar-benar membaca artikel sains. Nyatanya, kebanyakan pengguna Facebook hanya membagikan link tanpa membaca isinya.

A recent study showed that only 70% of people actually read a science article. Most simply see a headline they like and click share and make a comment. A recent study showed that only 70% of people actually read a science article. Most simply see a headline they like and click share and make a comment.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam consectetur ipsum sit amet sem vestibulum eleifend. Donec sed metus nisi. Quisque ultricies nulla a risus facilisis vestibulum. Ut luctus feugiat nisi, eget molestie magna faucibus vitae. Morbi luctus orci eget semper fringilla. Proin vestibulum neque a ultrices aliquet. Fusce imperdiet purus in euismod accumsan. Suspendisse potenti. Nullam efficitur feugiat nibh, at pellentesque mauris. Suspendisse potenti. Maecenas efficitur urna velit, ut gravida enim vestibulum eu. Nullam suscipit finibus tellus convallis lacinia. Aenean ex nunc, posuere sit amet mauris ac, venenatis efficitur nulla. Nam auctor eros eu libero rutrum, ac tristique nunc tincidunt. Mauris eu turpis rutrum mi scelerisque volutpat.

…..

…..

Menariknya, sekitar 47 ribu pengguna Facebook dan Twitter telah men-share artikel tersebut. Bisa saja sebagian dari mereka memang sengaja ingin membuat lelucon, atau memang sungguh-sungguh. Yang pasti, hal ini kemudian telah divalidasi. Berdasarkan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan di Universitas Colombia dan French National Institute, 59 persen dari link yang di-share di sosial media tidak pernah benar-benar di-klik. Dengan kata lain, kebanyakan orang hanya tertarik dengan judul atau headline nya saja yang menurut mereka menarik.

penguna Facebook akan membagikan link ini
http://marketingland.com

Pernah satu waktu, seorang teman Facebook saya men-share sebuah artikel dengan judul yang cukup kontrovesi. Setelah saya baca, ternyata isinya tidak sesuai dengan isi bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Tetapi yang lebih mengejutkan adalah komentar-komentar yang diberikan pengguna lain di bawah link yang di-share tersebut. Ternyata kebanyakan dari mereka terpancing dengan judul saya dan memberikan komentar yang berlawanan dengan isi artikel. Dari komentar-komentar tersebut tampak jelas kalau mereka benar-benar membaca artikel itu.

Parahnya, hasil penelitian mengatakan kalau hal ini ternyata sangat penting dalam peredaran berita, terutama yang berhubungan dengan politik dan eventevent yang akan berlangsung.

“Orang lebih suka men-share sebuah artikel daripada membacanya.” Begitu kata Arnaud Legout, salah seorang yang meneliti hal ini. “Ini adalah tipikal dari bagaimana informasi dikonsumsi di era modern. Sebuah pendapat terbentuk hanya berdasarkan ringkasan tanpa menggalinya lebih dalam.”

Untuk memverifikasi tentang klik dan share oleh pengguna Facebook dan Twitter ini, Legout dan peneliti lainnya mengumpulkan dua set data. Data pertama, semua tweet yang menggunakan Bit.ly (link yang diperpendek) terhadap 5 sumber berita selama satu bulan. Data kedua, semua klik dari link yang dipendekan oleh Bit.ly tersebut pada periode yang sama. Hasilnya: melalui sebuah map, para peneliti tersebut menemukan bagaimana berita-berita tersebut bisa menjadi viral di Twitter. Map tersebut juga menunjukan dengan cukup jelas bagaimana sebuah berita yang viral disebarluaskan.

Mereka juga menceritakan hasil pengamatan mereka yang lain. Kebanyakan dari klik dilakukan oleh para pengguna Twitter aktif, bukan si organisasi media itu sendiri. Link-link yang di klik para users tersebut kadang bukan artikel fresh from di oven. Kenyataannya, bahkan beberapa sudah pernah dipublikasikan dari beberapa hari sebelumnya.

Fenomena klik dan share yang membuat sebuah berita menjadi viral di media sosial ini lah yang menginspirasi the Science Post untuk membuat artikel dengan teks “lorem ipsum”. Editor dari situs tersebut mengatakan bahwa dia sudah bosan melihat begitu banyak kesalahpahaman, salah pengertian dan omong kosong yang orang-orang sebarkan melalui Internet. Dia juga menjelaskan bahwa the Science Post dikelola oleh para professor dan doktor: Sakit rasanya melihat informasi yang salah disebarluaskan seperti ini.

Dilansir dari:Washington Post

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *